Laboratoriumhikmah.com

Menjembatani Turats, Sains, Psikologi dan Hikmah

Huruf-hurufNahwu-Sharraf

memahami أي،-أن،-إن،-لو،-لولا،-أمّا،-لمّا

Kajian Nahwu–Sharaf

حرفا التفسير وأحرف الشرط: Memahami “أي، أن، إن، لو، لولا، أمّا، لمّا” dalam Kitab Fiqih

Pembahasan ini mengurai dua tema penting dalam حروف المعاني: pertama, حرفا التفسير, yaitu أَيْ dan أَنْ; kedua, أحرف الشرط, yaitu huruf-huruf yang membangun relasi syarat, jawab, pengandaian, sebab-akibat, perincian, dan penegasan dalam kalimat Arab.

Nahwu Sharaf Kitab Fiqih حرفا التفسير أحرف الشرط

1. Pengantar

Dalam kitab-kitab fiqih, huruf kecil seperti أَيْ, أَنْ, إِنْ, لَوْ, لَوْلَا, أَمَّا, dan لَمَّا sering menjadi kunci memahami arah hukum.

Inti pembahasan:
أَيْ dan أَنْ menjelaskan makna sebelumnya, sedangkan huruf-huruf syarat membangun hubungan antara sebab, syarat, jawab, pengandaian, dan konsekuensi hukum.
Kelompok 1 حرفا التفسير Dua huruf tafsir: أَيْ dan أَنْ. Fungsinya menjelaskan lafaz atau kalimat sebelumnya.
Kelompok 2 أحرف الشرط Huruf-huruf syarat seperti إن، لو، لولا، أما، لما yang membangun logika “jika, seandainya, ketika, adapun”.

2. حرفا التفسير

حَرْفَا التَّفْسِيرِ، وَهُمَا: «أَيْ» وَ«أَنْ». وَهُمَا مَوْضُوعَانِ لِتَفْسِيرِ مَا قَبْلَهُمَا، غَيْرَ أَنَّ «أَيْ» تُفَسَّرُ بِهَا المُفْرَدَاتُ وَالجُمَلُ، وَأَمَّا «أَنْ» فَتَخْتَصُّ بِتَفْسِيرِ الجُمَلِ.
Dua huruf tafsir adalah أَيْ dan أَنْ. Keduanya diletakkan untuk menjelaskan sesuatu yang datang sebelumnya. Hanya saja, أَيْ dapat menjelaskan mufrad dan jumlah, sedangkan أَنْ khusus menjelaskan jumlah.
Huruf Fungsi Yang Dijelaskan Terjemahan Umum
أَيْ Tafsir/penjelasan Mufrad dan jumlah yakni, maksudnya, yaitu
أَنْ Tafsir kalimat Jumlah saja bahwa, yaitu, yakni berupa pesan/perintah
Catatan: أَنْ التفسيرية berbeda dari أَنْ المصدرية. Yang pertama menjelaskan isi kalimat sebelumnya, sedangkan yang kedua menakwil fi‘il setelahnya menjadi mashdar.

3. أي التفسيرية

A. أي Menafsirkan Mufrad

رَأَيْتُ لَيْثًا، أَيْ أَسَدًا.
Aku melihat laits, yakni singa.

Kata لَيْثًا mungkin belum langsung jelas bagi sebagian pendengar, maka dijelaskan dengan أَيْ أَسَدًا.

B. أي Menafsirkan Jumlah

وَتَرْمِينَني بِالطَّرْفِ، أَيْ: أَنْتَ مُذْنِبٌ
وَتَقْلِينَني، لَكِنَّ إِيَّاكِ لَا أَقْلِي
Engkau melemparkan pandangan mata kepadaku, yakni seolah berkata: “Engkau berdosa.” Engkau membenciku, tetapi aku tidak membencimu.

Di sini yang dijelaskan bukan satu kata, tetapi satu tindakan: melempar pandangan. Tindakan itu ditafsirkan dengan pesan: “engkau berdosa.”

C. Contoh Gaya Kitab Fiqih

Menjelaskan istilah ṭahūr
المَاءُ الطَّهُورُ، أَيْ المُطَهِّرُ لِغَيْرِهِ، هُوَ المَاءُ البَاقِي عَلَى أَصْلِ خِلْقَتِهِ.

Air ṭahūr, yakni air yang menyucikan selain dirinya, adalah air yang masih berada pada asal penciptaannya.

Menjelaskan istilah najis
النَّجَسُ، أَيْ المُسْتَقْذَرُ شَرْعًا، يَجِبُ إِزَالَتُهُ عَنِ البَدَنِ وَالثَّوْبِ وَالمَكَانِ.

Najis, yakni sesuatu yang dianggap kotor menurut syariat, wajib dihilangkan dari badan, pakaian, dan tempat.

Menjelaskan maksud dhamir
وَيَجِبُ غَسْلُهُ، أَيْ غَسْلُ العُضْوِ الصَّحِيحِ.

Wajib membasuhnya, yakni membasuh anggota yang sehat.

Dalam bab tayammum
فَإِنْ عَجَزَ عَنِ الوُضُوءِ تَيَمَّمَ، أَيْ ضَرَبَ التُّرَابَ بِيَدَيْهِ لِاسْتِبَاحَةِ الصَّلَاةِ.

Jika ia tidak mampu berwudhu, ia bertayammum, yakni memukulkan kedua tangannya pada debu untuk membolehkan shalat.

Dalam membaca kitab fiqih, ketika menemukan أَيْ, biasanya penulis sedang membuka maksud istilah, dhamir, atau kalimat sebelumnya.

4. أن التفسيرية

وَأَمَّا «أَنْ» فَتَخْتَصُّ بِتَفْسِيرِ الجُمَلِ. وَهِيَ تَقَعُ بَيْنَ جُمْلَتَيْنِ، تَتَضَمَّنُ الأُولَى مِنْهُمَا مَعْنَى القَوْلِ دُونَ أَحْرُفِهِ.
Adapun أَنْ, maka ia khusus untuk menafsirkan jumlah. Ia terletak di antara dua kalimat. Kalimat pertama mengandung makna ucapan, tetapi tidak memakai lafaz “berkata”.

A. Contoh Qur’ani

فَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِ أَنِ اصْنَعِ الفُلْكَ.
Maka Kami wahyukan kepadanya: “Buatlah kapal.”

Lafaz أَوْحَيْنَا bukan قُلْنَا, tetapi mengandung makna penyampaian pesan. Karena itu, أَنْ setelahnya menjadi tafsir bagi isi wahyu.

B. Contoh Umum

كَتَبْتُ إِلَيْهِ، أَنْ تَحْضُرْ.
Aku menulis kepadanya: “Hendaknya engkau hadir.”

C. Contoh Gaya Kitab Fiqih

Setelah tulisan fatwa
كَتَبَ إِلَيْهِ المُفْتِي، أَنْ أَعِدِ الصَّلَاةَ.

Mufti menulis kepadanya: “Ulangilah shalat.”

Setelah isyarat
أَشَارَ إِلَيْهِ، أَنْ صَلِّ قَاعِدًا.

Ia memberi isyarat kepadanya: “Shalatlah sambil duduk.”

Setelah izin
أَذِنَ لَهُ الطَّبِيبُ، أَنْ لَا تَغْسِلِ الجُرْحَ.

Dokter mengizinkan kepadanya: “Jangan basuh luka itu.”

Tidak semua أَنْ adalah tafsīriyyah. Dalam kalimat seperti أَمَرَهُ أَنْ يُعِيدَ الصَّلَاةَ, ia sering dianalisis sebagai أَنْ المصدرية. Yang paling jelas tafsīriyyah adalah jika setelahnya berupa isi pesan/perintah yang menjelaskan kalimat sebelumnya.

5. أحرف الشرط

أَحْرُفُ الشَّرْطِ وَهِيَ: «إِنْ» وَ«إِذْ مَا» الجَازِمَتَانِ، وَ«لَوْ» وَ«لَوْلَا» وَ«لَوْمَا» وَ«أَمَّا» وَ«لَمَّا».
Huruf-huruf syarat adalah: إنْ, إذ ما, لو, لولا, لوما, أمّا, dan لمّا.
Struktur dasar syarat:

أداة الشرط + فعل الشرط + جواب الشرط

Contoh: إِنْ وَجَدَ المَاءَ بَطَلَ تَيَمُّمُهُ
Jika ia menemukan air, maka tayammumnya batal.

إنْ dan إذ ما

إنْ dan إذ ما termasuk huruf syarat yang menjazmkan dua fi‘il: fi‘il syarat dan jawab syarat.

Contoh gaya fiqih
إِنْ تَغَيَّرَ المَاءُ بِالنَّجَاسَةِ نَجُسَ.

Jika air berubah karena najis, maka ia menjadi najis.

Contoh lain
إِنْ تَرَكَ رُكْنًا لَمْ تَصِحَّ صَلَاتُهُ.

Jika ia meninggalkan satu rukun, maka shalatnya tidak sah.

6. لو dan Dua Jenisnya

A. لو untuk Masa Lampau: امتناع لامتناع

أَنْ تَكُونَ حَرْفَ شَرْطٍ لِمَا مَضَى، فَتُفِيدُ امْتِنَاعَ شَيْءٍ لِامْتِنَاعِ غَيْرِهِ، وَتُسَمَّى حَرْفَ امْتِنَاعٍ لِامْتِنَاعٍ.
لو dapat menjadi huruf syarat untuk sesuatu yang telah lampau. Ia menunjukkan tidak terjadinya sesuatu karena tidak terjadinya sesuatu yang lain. Karena itu disebut حرف امتناع لامتناع.
Contoh utama
لَوْ جِئْتَ لَأَكْرَمْتُكَ.

Seandainya engkau datang, niscaya aku memuliakanmu. Maknanya: engkau tidak datang, maka aku tidak memuliakanmu.

Contoh Qur’ani
وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً.

Seandainya Tuhanmu menghendaki, niscaya Dia menjadikan manusia satu umat.

B. لو untuk Masa Depan Bermakna إنْ

أَنْ تَكُونَ حَرْفَ شَرْطٍ لِلْمُسْتَقْبَلِ، بِمَعْنَى «إِنْ». وَهِيَ حِينَئِذٍ لَا تُفِيدُ الِامْتِنَاعَ.
لو juga dapat bermakna إنْ, yaitu “jika”, untuk masa depan. Dalam keadaan ini, ia tidak menunjukkan ketidakterjadian.
Contoh
لَوْ تَزُورُنَا لَسُرِرْنَا بِلِقَائِكَ.

Jika engkau mengunjungi kami, tentu kami senang bertemu denganmu.

C. Jawab لو

لو membutuhkan jawab. Jawabnya boleh disertai lam dan boleh tidak.

Jawab dengan lam لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا
Jawab tanpa lam وَلَوْ نَشَاءُ جَعَلْنَاهُ أُجَاجًا
Jika jawab لو berupa fi‘il mudhāri‘ yang dinafikan, maka tidak boleh memakai lam. Contoh: لَوِ اجْتَهَدْتَ لَمْ تَنْدَمْ.

D. Contoh Gaya Kitab Fiqih

لَوْ صَلَّى بِغَيْرِ طَهَارَةٍ لَمْ تَصِحَّ صَلَاتُهُ.

Seandainya ia shalat tanpa bersuci, maka shalatnya tidak sah.

لَوْ أَكَلَ نَاسِيًا لَمْ يَفْطُرْ.

Seandainya ia makan karena lupa, maka ia tidak batal puasanya.

لَوْ رَأَى المَاءَ فِي أَثْنَاءِ الصَّلَاةِ لَمْ تَبْطُلْ صَلَاتُهُ عَلَى التَّفْصِيلِ المَذْكُورِ.

Seandainya ia melihat air di tengah shalat, maka shalatnya tidak batal menurut perincian yang telah disebutkan.

7. لولا dan لوما

وَ«لَوْلَا» وَ«لَوْمَا» حَرْفَا شَرْطٍ يَدُلَّانِ عَلَى امْتِنَاعِ شَيْءٍ لِوُجُودِ غَيْرِهِ.
لولا dan لوما adalah dua huruf syarat yang menunjukkan tidak terjadinya sesuatu karena adanya sesuatu yang lain.
Contoh utama
لَوْلَا رَحْمَةُ اللَّهِ لَهَلَكَ النَّاسُ.

Kalau bukan karena rahmat Allah, niscaya manusia binasa. Maknanya: manusia tidak binasa karena rahmat Allah ada.

Contoh lain
لَوْمَا الكِتَابَةُ لَضَاعَ أَكْثَرُ العِلْمِ.

Kalau bukan karena tulisan, niscaya sebagian besar ilmu hilang.

Khabar Setelah لولا dan لوما

Keduanya masuk kepada mubtada dan khabar. Tetapi khabar setelah keduanya biasanya dibuang wajib.

لَوْلَا رَحْمَةُ اللَّهِ حَاصِلَةٌ أَوْ مَوْجُودَةٌ.
Taqdirnya: kalau bukan karena rahmat Allah itu ada. Lafaz حاصلة atau موجودة biasanya dibuang karena sudah dipahami.

Contoh Gaya Kitab Fiqih

لَوْلَا المَشَقَّةُ لَمَا ثَبَتَتِ الرُّخْصَةُ.

Kalau bukan karena kesulitan, tentu rukhsah tidak tetap.

لَوْلَا فَقْدُ المَاءِ لَمَا جَازَ التَّيَمُّمُ.

Kalau bukan karena tidak adanya air, tentu tayammum tidak boleh.

لَوْلَا خَوْفُ الضَّرَرِ لَوَجَبَ غَسْلُ الجُرْحِ.

Kalau bukan karena takut bahaya, tentu wajib membasuh luka.

لَوْلَا السَّفَرُ لَمَا جَازَ القَصْرُ.

Kalau bukan karena safar, tentu qashar tidak boleh.

8. أمّا

وَ«أَمَّا» بِالفَتْحِ وَالتَّشْدِيدِ، حَرْفُ شَرْطٍ يَكُونُ لِلتَّفْصِيلِ أَوِ التَّوْكِيدِ. وَهِيَ قَائِمَةٌ مَقَامَ أَدَاةِ الشَّرْطِ وَفِعْلِ الشَّرْطِ. وَالمَذْكُورُ بَعْدَهَا جَوَابُ الشَّرْطِ، فَلِذَلِكَ تَلْزَمُهُ فَاءُ الجَوَابِ.
أمّا adalah huruf syarat yang digunakan untuk perincian atau penegasan. Ia menempati posisi alat syarat dan fi‘il syarat. Karena itu, jawab setelahnya harus disertai fā’ jawab.

A. أمّا untuk Perincian

فَأَمَّا اليَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ، وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ، وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ.
Adapun anak yatim, maka jangan engkau hardik. Adapun peminta-minta, maka jangan engkau bentak. Adapun nikmat Tuhanmu, maka ceritakanlah.

B. أمّا untuk Penegasan

أَمَّا خَالِدٌ فَشُجَاعٌ.

Adapun Khalid, maka ia sungguh pemberani.

Asal maknanya: مَهْمَا يَكُنْ مِنْ شَيْءٍ فَخَالِدٌ شُجَاعٌ, yaitu “apa pun yang terjadi, Khalid pemberani.”

C. Contoh Gaya Kitab Fiqih

أَمَّا الطَّهَارَةُ فَهِيَ شَرْطٌ لِصِحَّةِ الصَّلَاةِ.

Adapun bersuci, maka ia adalah syarat sah shalat.

أَمَّا الحَدَثُ الأَصْغَرُ فَيُوجِبُ الوُضُوءَ، وَأَمَّا الحَدَثُ الأَكْبَرُ فَيُوجِبُ الغُسْلَ.

Adapun hadats kecil, maka ia mewajibkan wudhu. Adapun hadats besar, maka ia mewajibkan mandi.

أَمَّا فَقْدُ المَاءِ فَهُوَ مِنْ أَسْبَابِ التَّيَمُّمِ.

Adapun tidak adanya air, maka ia termasuk sebab-sebab tayammum.

أَمَّا النِّيَّةُ فَرُكْنٌ لَا بُدَّ مِنْهُ.

Adapun niat, maka ia adalah rukun yang pasti harus ada.

Setelah أمّا, jawabnya umumnya membutuhkan فاء. Karena itu pola yang sering muncul: أمّا … فـ…. Nah dalam hal ini Fa’ yang menjadi jawab, disebut Fa’ jawab Amma

9. لمّا

وَ«لَمَّا» حَرْفُ شَرْطٍ، مَوْضُوعٌ لِلدَّلَالَةِ عَلَى وُجُودِ شَيْءٍ لِوُجُودِ غَيْرِهِ. وَلِذَلِكَ تُسَمَّى حَرْفَ وُجُودٍ لِوُجُودٍ. وَهِيَ تَخْتَصُّ بِالدُّخُولِ عَلَى الفِعْلِ المَاضِي.
لمّا adalah huruf syarat yang menunjukkan adanya sesuatu karena adanya sesuatu yang lain. Karena itu disebut huruf وجود لوجود. Ia khusus masuk kepada fi‘il māḍī.
Contoh utama
لَمَّا جَاءَ أَكْرَمْتُهُ.

Ketika ia datang, aku memuliakannya.

Jawab لمّا

Jawab لمّا bisa berupa fi‘il māḍī, jumlah ismiyyah dengan إذا الفجائية, atau jumlah yang disertai fā’.

Fi‘il māḍī لَمَّا جَاءَ أَكْرَمْتُهُ
Dengan إذا فجائية فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى البَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ
Dengan فاء فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى البَرِّ فَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ

Contoh Gaya Kitab Fiqih

لَمَّا دَخَلَ الوَقْتُ وَجَبَتِ الصَّلَاةُ.

Ketika waktu masuk, shalat menjadi wajib.

لَمَّا وُجِدَ السَّبَبُ ثَبَتَ الحُكْمُ.

Ketika sebab ada, hukum pun tetap.

لَمَّا زَالَ العُذْرُ رَجَعَ الحُكْمُ إِلَى أَصْلِهِ.

Ketika uzur hilang, hukum kembali kepada asalnya.

لَمَّا وَجَدَ المَاءَ بَعْدَ الصَّلَاةِ لَمْ تَجِبِ الإِعَادَةُ عَلَى التَّفْصِيلِ.

Ketika ia menemukan air setelah shalat, tidak wajib mengulang menurut perinciannya.

Sebagian ulama menjadikan لمّا sebagai zharaf zaman bermakna حين, sedangkan para muhaqqiq menilainya sebagai huruf rabṭ, yaitu huruf penghubung antara dua jumlah.

10. Kumpulan Contoh yang Sering Muncul dalam Kitab Fiqih

A. Pola أي

فَيُعِيدُ، أَيْ يُصَلِّي الصَّلَاةَ ثَانِيًا.

Maka ia mengulang, yakni mengerjakan shalat itu untuk kedua kalinya.

وَالمُرَادُ بِهِ الطَّهَارَةُ، أَيْ رَفْعُ الحَدَثِ أَوْ إِزَالَةُ النَّجَسِ.

Yang dimaksud dengannya adalah bersuci, yakni menghilangkan hadats atau menghilangkan najis.

وَالمُرَادُ بِالصَّحِيحِ، أَيْ العُضْوُ الَّذِي لَا عِلَّةَ فِيهِ.

Yang dimaksud dengan “sehat” adalah anggota yang tidak memiliki ‘illat/luka.

B. Pola أن التفسيرية

أَشَارَ إِلَيْهِ، أَنْ أَعِدِ الصَّلَاةَ.

Ia memberi isyarat kepadanya: ulangilah shalat.

كَتَبَ إِلَيْهِ، أَنْ لَا تَتْرُكِ الطَّهَارَةَ.

Ia menulis kepadanya: jangan tinggalkan bersuci.

C. Pola إن الشرطية

إِنْ أَحْدَثَ بَطَلَ وُضُوؤُهُ.

Jika ia berhadats, maka wudhunya batal.

إِنْ وَجَدَ المَاءَ قَبْلَ الصَّلَاةِ بَطَلَ تَيَمُّمُهُ.

Jika ia menemukan air sebelum shalat, maka tayammumnya batal.

إِنْ عَمَّتِ العِلَّةُ أَعْضَاءَ الطَّهَارَةِ اقْتَصَرَ عَلَى التَّيَمُّمِ.

Jika ‘illat/luka mencakup seluruh anggota bersuci, maka ia cukup dengan tayammum.

D. Pola لو

لَوْ نَزَعَ الجَبِيرَةَ وَخَافَ الضَّرَرَ لَمْ يَجِبْ عَلَيْهِ النَّزْعُ.

Seandainya ia melepas perban dan khawatir bahaya, maka tidak wajib baginya melepasnya.

لَوْ تَيَمَّمَ قَبْلَ الوَقْتِ لَمْ يَصِحَّ تَيَمُّمُهُ لِلْفَرْضِ.

Seandainya ia bertayammum sebelum masuk waktu, maka tayammumnya tidak sah untuk shalat fardhu.

E. Pola لولا

لَوْلَا خَوْفُ زِيَادَةِ المَرَضِ لَوَجَبَ اسْتِعْمَالُ المَاءِ.

Kalau bukan karena takut bertambahnya sakit, tentu wajib menggunakan air.

لَوْلَا الحَاجَةُ لَمَا جَازَتِ الرُّخْصَةُ.

Kalau bukan karena kebutuhan, tentu rukhsah tidak boleh.

F. Pola أمّا

أَمَّا الوُضُوءُ فَيَجِبُ عِنْدَ الحَدَثِ الأَصْغَرِ.

Adapun wudhu, maka wajib ketika hadats kecil.

أَمَّا الغُسْلُ فَيَجِبُ عِنْدَ الحَدَثِ الأَكْبَرِ.

Adapun mandi, maka wajib ketika hadats besar.

أَمَّا المَسْحُ عَلَى الجَبِيرَةِ فَيَجِبُ عِنْدَ الحَاجَةِ إِلَيْهِ.

Adapun mengusap perban, maka wajib ketika ada kebutuhan kepadanya.

G. Pola لمّا

لَمَّا دَخَلَ وَقْتُ الظُّهْرِ وَجَبَتِ الصَّلَاةُ.

Ketika waktu Zuhur masuk, shalat menjadi wajib.

لَمَّا زَالَ المَانِعُ عَادَ الحُكْمُ إِلَى أَصْلِهِ.

Ketika penghalang hilang, hukum kembali kepada asalnya.

11. Tabel Perbandingan Ringkas

Huruf Jenis Makna Amal Contoh Fiqih
أَيْ Huruf tafsir Yakni / maksudnya Tidak beramal الطَّهُورُ، أَيْ المُطَهِّرُ
أَنْ Huruf tafsir Menjelaskan isi pesan/jumlah Tidak beramal sebagai tafsiriyyah كَتَبَ إِلَيْهِ، أَنْ أَعِدِ الصَّلَاةَ
إِنْ Huruf syarat Jika Menjazmkan إِنْ أَحْدَثَ بَطَلَ وُضُوؤُهُ
لَوْ Huruf syarat Seandainya / jika Tidak beramal لَوْ أَكَلَ نَاسِيًا لَمْ يَفْطُرْ
لَوْلَا Huruf syarat Kalau bukan karena Masuk pada mubtada لَوْلَا فَقْدُ المَاءِ لَمَا جَازَ التَّيَمُّمُ
أَمَّا Huruf syarat Adapun / penegasan Butuh fā’ jawab أَمَّا الطَّهَارَةُ فَشَرْطٌ
لَمَّا Huruf syarat Ketika Masuk pada fi‘il māḍī لَمَّا دَخَلَ الوَقْتُ وَجَبَتِ الصَّلَاةُ

12. Kesimpulan Besar

حرفا التفسير adalah أَيْ dan أَنْ. Keduanya berfungsi menjelaskan apa yang sebelumnya masih perlu diterangkan. أَيْ dapat menjelaskan mufrad dan jumlah, sedangkan أَنْ khusus menjelaskan jumlah, terutama setelah kalimat yang mengandung makna penyampaian pesan.

Adapun أحرف الشرط adalah alat bahasa untuk membangun hubungan antara syarat dan jawab. Dalam kitab fiqih, huruf-huruf ini sangat penting karena sering menjadi pintu masuk untuk memahami konsekuensi hukum.

إنْ membangun syarat hukum. لو membangun pengandaian fiqhiyyah. لولا menunjukkan adanya sebab yang mencegah hukum lain. أمّا menyusun perincian pembahasan. لمّا menghubungkan sebab dan akibat dalam waktu.

Rumus penting:

Jangan membaca huruf-huruf ini secara datar. Lihat fungsinya: apakah sedang menjelaskan istilah, membangun syarat, membuat pengandaian, memberi perincian, atau menunjukkan hubungan sebab-akibat hukum.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *