Laboratoriumhikmah.com

Menjembatani Turats, Sains, Psikologi dan Hikmah

AkhlaqTasawwuf

Niyahah Lanjutan…

بَابُ النِّيَاحَةِ وَتَوَابِعِهَا وَاسْتِمَاعِهَا

Bab tentang Meratapi Mayat (Niyahah), Hal-hal yang Berkaitan, dan Mendengarkannya

Matan Hadits 9-10

وَالشَّيْخَانِ: المَيِّتُ يُعَذَّbُ فِي القَبْرِ بِمَا نِيحَ عَلَيْهِ

وَالتِّرْمِذِيُّ: مَا مِنْ مَيِّتٍ يَمُوتُ فَيَقُومُ بَاكِيهِمْ فَيَقُولُ: وَاجَمَلَاهُ وَاسَنَدَاهُ وَنَحْوُ ذَلِكَ، إِلَّا وَكَّلَ اللهُ بِهِ مَلَكَيْنِ يَلْهَزَانِهِ: أَهَكَذَا كُنْتَ؟

Terjemahan Kontekstual

Hadis 9 (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim):
Dua Syekh (Al-Bukhari dan Muslim) meriwayatkan: “Mayat itu diazab di dalam kuburnya disebabkan ratapan (niyahah) yang ditujukan kepadanya.”
Hadis 10 (Riwayat At-Tirmidzi):
At-Tirmidzi meriwayatkan: “Tidaklah seorang mayat meninggal dunia, lalu orang yang menangisinya berdiri dan meratap, ‘Aduhai ketampanannya! Aduhai sandaranku!’ dan yang semisal itu, melainkan Allah akan mengutus dua malaikat yang menghantam/mendorong dadanya seraya bertanya: ‘Apakah benar kamu dahulu seperti itu?'”

Matan Hadits 11

وَالْبُخَارِيُّ عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ: أُغْمِيَ عَلَى عَبْدِ اللهِ بْنِ رَوَاحَةَ، فَجَعَلَتْ أُخْتُهُ تَبْكِي: وَاجَمَلَاهُ وَاكَذَا وَاكَذَا تُعَدِّدُ عَلَيْهِ، فَقَالَ لَهَا حِينَ أَفَاقَ: مَا قُلْتِ شَيْئاً إِلَّا قِيلَ لِي أَنْتَ كَذَلِكَ، فَلَمَّا مَاتَ لَمْ تَبْكِ عَلَيْهِ.

Hadis 11 (Riwayat Al-Bukhari):
Al-Bukhari meriwayatkan dari An-Nu’man bin Basyir, ia berkata: “Abdullah bin Rawahah pernah pingsan, lalu saudara perempuannya mulai menangis histeris seraya meratap, ‘Aduhai ketampanannya! Aduhai begini dan begitu!’ sambil menyebut-nyebut kebaikannya. Ketika ia tersadar, ia berkata kepada saudaranya: ‘Tidaklah kamu mengucapkan sesuatu melainkan ditanyakan kepadaku: Apakah kamu benar demikian?’ Maka ketika ia benar-benar wafat, saudaranya tidak menangisinya lagi (dengan ratapan).”

Matan Hadits 12

وَفِي رِوَايَةٍ رَوَاهَا الطَّبَرَانِيُّ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ أُغْمِيَ عَلَيَّ فَصَاحَتِ النِّسَاءُ: وَاعِزَّاهُ وَاجَمَلَاهُ، فَقَامَ مَلَكٌ مَعَهُ مِرْزَبَّةٌ فَجَعَلَهَا بَيْنَ رِجْلَيَّ فَقَالَ: أَنْتَ كَمَا تَقُولُ؟ قُلْتُ: لَا. وَلَوْ قُلْتُ: نَعَمْ، ضَرَبَنِي بِهَا.

Hadis 12 (Riwayat Ath-Thabarani):
Dalam riwayat yang dibawakan oleh Ath-Thabarani, ia (Abdullah bin Rawahah) berkata: “Wahai Rasulullah, aku pernah pingsan lalu para wanita berteriak meratap, ‘Aduhai kemuliaanku! Aduhai ketampanannya!’ Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat yang membawa gada besi (mirzabah) lalu meletakkannya di antara kedua kakiku, seraya bertanya: ‘Apakah kamu seperti yang mereka katakan?’ Aku menjawab: ‘Tidak.’ Seandainya aku menjawab iya, niscaya ia akan memukulku dengannya.”

Atsar

وَرُوِيَ: مَنْ أَصَابَتْهُ مُصِيبَةٌ، فَخَرَقَ عَلَيْهَا ثَوْباً أَوْ لَطَمَ خَدّاً أَوْ شَقَّ جَيْباً أَوْ نَتَفَ شَعْراً فَكَأَنَّمَا أَخَذَ رُمْحاً يُرِيدُ أَنْ يُحَارِبَ بِهِ رَبَّهُ.

قَالَ صَالِحٌ المُرِّيُّ: نِمْتُ لَيْلَةَ جُمُعَةٍ بِمَقْبَرَةٍ فَرَأَيْتُ الْأَمْوَاتَ خَرَجُوا مِنْ قُبُورِهِمْ وَتَحَلَّقُوا، وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمْ أَطْبَاقٌ مُغَطَّاةٌ، وَفِيهِمْ شَابٌّ يُعَذَّبُ فَتَقَدَّمْتُ فَسَأELSُهُ فَقَالَ: لِي وَالِدَةٌ جَمَعَتِ النَّوَادِبَ، فَأَنَا مُعَذَّبٌ بِذَلِكَ فَلَا جَزَاهَا اللهُ عَنِّي خَيْراً، وَبَكَى، ثُمَّ أَمَرَنِي أَنْ أَذْهَبَ إِلَيْهَا، وَأَعْلَمَنِي بِمَحَلِّهَا وَأَنْ أُنَاشِدَهَا بِتَرْكِ هَذَا الْعَذَابِ الْعَظِيمِ الَّذِي تَسَبَّبتْ لَهُ فِيهِ.

فَلَمَّا أَصْبَحْتُ ذَهَبْتُ إِلَيْهَا، وَرَأَيْتُ عِنْدَهَا تِلْكَ النَّوَادِبَ، وَوَجْهُهَا قَدِ اسْوَدَّ مِنْ كَثْرَةِ اللَّطْمِ وَالْبُكَاءِ، فَذَكَرْتُ لَهَا ذَلِكَ Mَنَامَ فَتَابَتْ وَأَخْرَجَتِ النَّوَادِبَ، وَأَعْطَتْنِي دَرَاهِمَ لِأَتَصَدَّقَ بِهَا عَنْهُ.

فَأَتَيْتُ Mَقْبَرَةَ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ عَلَى عَادَتِي، وَتَصَدَّقْتُ عَنْهُ بِتِلْكَ الدَّرَاهِمِ، فَنِمْتُ فَرَأَيْتُهُ وَهُوَ يَقُولُ لِي: جَزَاكَ اللهُ عَنِّي خَيْراً أَذْهَبَ اللهُ عَنِّي الْعَذَابَ، وَوَصَلَتْ إِلَيَّ الصَّدَقَةُ فَأَخْبِرْ أُمِّي بِذَلِكَ. فَاسْتَيْقَظْتُ فَذَهَبْتُ إِلَيْهَا، فَوَجَدْتُهَا مَاتَتْ فَحَضَرْتُ الصَّلَاةَ عَلَيْهَا، وَدُفِنَتْ بِجَنْبِ وَلَدِهَا.

Atsar/Riwayat Lain:
Dan diriwayatkan: “Barangsiapa yang tertimpa musibah, lalu ia merobek pakaiannya, menampar pipinya, merobek kerah bajunya, atau mencabuti rambutnya, maka seolah-olah ia telah mengambil tombak untuk memerangi Tuhannya.”
Kisah Shalih Al-Murri:
Shalih Al-Murri menceritakan: “Aku pernah tidur di suatu malam Jumat di sebuah perkuburan, lalu aku melihat orang-orang mati keluar dari kubur mereka dan duduk melingkar. Turunlah kepada mereka nampan-nampan yang tertutup. Namun di antara mereka ada seorang pemuda yang sedang diazab. Aku mendekat dan bertanya kepadanya. Ia menjawab: ‘Aku memiliki seorang ibu yang mengumpulkan para wanita peratap (nawadib), sehingga aku diazab karena perbuatan itu. Semoga Allah tidak membalas kebaikan kepadanya dariku,’ lalu ia menangis.

Kemudian ia menyuruhku pergi menemui ibunya, memberi tahu tempat tinggalnya, dan memintaku mendesak ibunya agar menghentikan siksaan besar yang ia sebabkan ini. Ketika pagi hari, aku pergi menemui ibunya dan melihat para wanita peratap berada di sisinya, sementara wajah ibunya telah menghitam karena terlalu banyak menampar pipi dan menangis. Maka aku menceritakan mimpi itu kepadanya. Ia pun bertobat, mengusir para wanita peratap itu, dan memberiku beberapa dirham untuk disedekahkan atas nama anaknya.

Di malam Jumat berikutnya, aku mendatangi kuburan seperti biasanya dan menyedekahkan uang dirham tersebut atas namanya. Ketika aku tidur, aku bermimpi melihat pemuda itu lagi dan ia berkata kepadaku: ‘Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan, Allah telah menghilangkan azab dariku, dan sedekah itu telah sampai kepadaku, maka kabarkanlah hal ini kepada ibuku.’ Aku pun terbangun lalu pergi menemui ibunya, namun aku dapati ia telah meninggal dunia. Aku pun menyalatinya, dan ia dimakamkan di samping anak laki-lakinya.”
Penjelasan Rinci

Kelanjutan teks ini memberikan pemahaman mendalam tentang korelasi metafisik antara perbuatan orang hidup (ratapan) dan kondisi psikologis serta fisik si mayat di alam kubur.

A. Mengapa Mayat Diazab karena Ratapan Keluarganya?

Hadis “Mayat diazab di kubur karena ratapan” sempat memicu diskusi di kalangan sahabat Nabi (termasuk Ummul Mukminin Aisyah RA yang mengingatkan ayat bahwa seseorang tidak menanggung dosa orang lain). Para ulama mengompromikan hal ini ke dalam tiga penjelasan utama:

  • Adanya Wasiat/Rida:
    Mayat tersebut diazab jika sebelum wafat ia berwasiat agar diratapi, atau ia tahu keluarganya punya tradisi meratap namun ia tidak melarangnya semasa hidup.
  • Makna Siksaan adalah Kesedihan (Al-Adzab al-Nafsi):
    Makna “diazab” di sini bukan selalu disiksa api neraka, melainkan roh si mayat merasa terganggu, sedih, dan pedih mendengar ketidakrelaan keluarganya atas takdir Allah.
  • Jika Mayat Telah Melarang:
    Apabila si mayat sudah berdakwah dan melarang keluarganya meratap semasa hidup namun mereka tetap nekat melakukannya, maka mayat tersebut bersih dari dosa dan tidak diazab.

    (QS. Al-An’am, ayat 164 berbunyi:
    وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِّزْرَ اُخْرٰىۚ ثُمَّ اِلٰى رَبِّكُمْ مَّرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيْهِ تَخْتَلِفُوْنَ
    “…dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan.”

B. Celaan dan Hantaman Malaikat (يَلْهَزَانِهِ)

A. Contoh Memuji Berlebihan

Ketika keluarga meratap dengan memuji berlebihan seperti “Wahai sandaranku”, “Wahai pahlawanku”, malaikat akan mengonfirmasi dengan nada menghina: “Apakah benar kamu sehebat itu?”

Siksaan ini bersifat interogatif yang menghinakan. Kisah sahabat Abdullah bin Rawahah RA yang mengonfirmasi rasa sakit interogasi ini bahkan saat baru sekadar pingsan menjadi bukti nyata bahwa alam barzah sangat sensitif terhadap lisan orang hidup.
B. Hiperbola Dosa Menolak Takdir

Ungkapan “seolah-olah mengambil tombak untuk memerangi Tuhannya” adalah bentuk mubalaghah (majas penegasan) yang sangat keras. Orang yang merusak diri dan pakaiannya saat tertimpa musibah dianggap sedang menantang keputusan Allah SWT secara terang-terangan.

C. Pelajaran Hukum dari Kisah Shalih Al-Murri

Kisah sufistik/ulama salaf yang dibawakan oleh Shalih Al-Murri (seorang tabi’ut tabi’in/ulama zuhud) mengandung beberapa ibrah penting:

Siksaan Riil Akibat Niyahah: Kisah ini mengonfirmasi kebenaran hadis secara visual lewat mimpi bahwa niyahah orang tua berakibat buruk bagi anak di alam kubur.

Wajah Menghitam di Dunia: Efek fisik tamparan yang terus-menerus (latm) mengubah estetika wajah pelakunya menjadi buruk dan menghitam (bisa bermakna fisik maupun hilangnya cahaya iman).
Kekuatan Sedekah: Sedekah yang diniatkan untuk ahli kubur (al-shadaqah ‘an al-mayyit) secara instan dapat meringankan atau bahkan menghapuskan azab kubur atas izin Allah.
Husnul Khatimah lewat Tobat: Sang ibu langsung diwafatkan tak lama setelah ia bertobat nasuha dan bersedekah, serta dikuburkan berdampingan dengan anaknya dalam keadaan azab yang telah diangkat.

Sumber teks: Irshad al-Ibad ila Sabil ar-Rashad
Laboratoriumhikmh.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *