Laboratoriumhikmah.com

Menjembatani Turats, Sains, Psikologi dan Hikmah

Nahwu-Sharraf

Pembasan 3 kategori إِذَا

Lafaz إِذَا datang dalam tiga bentuk penggunaan.

Pertama: إِذَا الفُجَائِيَّة

Pertama, إِذَا فجائية, yaitu إِذَا yang menunjukkan makna tiba-tiba, mendadak, atau secara mengejutkan.

Dalam makna ini, إِذَا adalah huruf yang tidak memiliki amal i‘rāb. Maksudnya, ia tidak merafa‘kan, tidak menashabkan, dan tidak menjarkan kata setelahnya. Akan tetapi, dalam penggunaan ini biasanya disyaratkan datang setelahnya jumlah ismiyyah, yaitu kalimat nominal, agar makna “tiba-tiba” itu tampak jelas. Terkadang khabar dalam jumlah ismiyyah tersebut dibuang dan diperkirakan dengan kata مَوْجُودٌ, “ada/terdapat”.

Allah Ta‘ala berfirman:

فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَى
“Maka Musa melemparkannya, lalu tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang bergerak cepat.”

وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ… فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ
“Kebaikan dan keburukan tidaklah sama. Balaslah dengan sesuatu yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antara engkau dan dia ada permusuhan seakan-akan menjadi teman yang sangat akrab.”

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَإِذَا هُمْ مِنَ الْأَجْدَاثِ إِلَى رَبِّهِمْ يَنْسِلُونَ
“Dan ditiuplah sangkakala, maka tiba-tiba mereka keluar dari kubur-kubur mereka menuju Tuhan mereka dengan bersegera.”

Pada contoh:

فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ

Huruf فَـ adalah fā’ isti’nāfiyyah, yaitu fā’ yang membuka susunan kalimat baru. إِذَا adalah huruf yang memberi makna kejutan atau kemendadakan, dan tidak memiliki kedudukan i‘rāb.

هِيَ adalah dhamīr munfashil, kata ganti terpisah, mabnī di atas fathah, dalam posisi rafa‘ sebagai mubtada’. حَيَّةٌ adalah khabar yang marfū‘ dengan tanda dhammah.

تَسْعَى adalah fi‘il mudhāri‘ marfū‘ karena bebas dari nāshib dan jāzim. Tanda rafa‘nya adalah dhammah muqaddarah di atas alif karena ta‘adzdzur, yakni sulit/tidak mungkin dilafalkan dhammah pada alif maqshūrah. Fā‘ilnya adalah dhamīr mustatir, diperkirakan هِيَ.

Jumlah fi‘liyyah تَسْعَى berkedudukan sebagai sifat bagi حَيَّةٌ. Jadi maknanya bukan sekadar “ular”, tetapi “ular yang bergerak/berlari”.

Jumlah ismiyyah هِيَ حَيَّةٌ adalah kalimat isti’nāfiyyah, tidak memiliki kedudukan i‘rāb.

Pada contoh:

فَإِذَا الَّذِي…

Huruf فَـ adalah isti’nāfiyyah. إِذَا adalah huruf yang memberi makna tiba-tiba. الَّذِي adalah isim maushūl, mabnī di atas sukūn, berkedudukan rafa‘ sebagai mubtada’.

Jumlah كَأَنَّهُ وَلِيٌّ berada pada posisi rafa‘ sebagai khabar bagi mubtada’ الَّذِي.

كَأَنَّ termasuk huruf yang menyerupai fi‘il, yaitu الأحرف المشبهة بالفعل. Huruf-huruf ini bekerja seperti fi‘il dari sisi menashabkan isim dan merafa‘kan khabar.

Dhamīr هُ pada كَأَنَّهُ adalah isim كَأَنَّ, manshūb secara posisi. وَلِيٌّ adalah khabar كَأَنَّ, marfū‘ dengan dhammah.

Maka seluruh jumlah كَأَنَّهُ وَلِيٌّ menjadi khabar dari mubtada’ الَّذِي.

Kedua: إِذَا الظَّرْفِيَّة الشَّرْطِيَّة غَيْر الجَازِمَة

Kedua, إِذَا sebagai zharaf syarthī ghair jāzim, yaitu kata keterangan waktu yang mengandung makna syarat tetapi tidak menjazmkan fi‘il.

Dalam makna ini, إِذَا adalah zharaf bagi waktu yang akan datang. Ia selalu diidhāfahkan kepada jumlah fi‘liyyah setelahnya. Karena itu, kalimat setelah إِذَا harus berupa jumlah fi‘liyyah. Jumlah fi‘liyyah itu berkedudukan majrūr secara mahal sebagai mudhāf ilaih.

إِذَا juga berkaitan dengan jawab syarat.

Contoh firman Allah:

فَإِذَا جَاءَ أَمْرُ اللَّهِ قُضِيَ بِالْحَقِّ
“Maka apabila datang keputusan Allah, diputuskanlah perkara itu dengan benar.”

Pada contoh ini:

فَإِذَا: fā’ mengikuti susunan sebelumnya. إِذَا adalah isim syarat yang tidak menjazmkan, digunakan untuk waktu yang akan datang, dan ia menjadi mudhāf.

جَاءَ adalah fi‘il mādhī, mabnī di atas fathah, sekaligus menjadi fi‘il syarat.

أَمْرُ adalah fā‘il marfū‘ dengan dhammah, dan menjadi mudhāf kepada lafaz jalālah اللَّهِ.

Jumlah fi‘liyyah جَاءَ أَمْرُ اللَّهِ berkedudukan majrūr sebagai mudhāf ilaih bagi إِذَا.

Contoh lain:

وَإِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا قَالُوا سَمِعْنَا
“Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami, mereka berkata: ‘Kami telah mendengar.’”

إِذَا di sini juga isim syarat ghair jāzim, zharaf bagi waktu mendatang, dan menjadi mudhāf.

تُتْلَى adalah fi‘il mudhāri‘ mabnī lil-majhūl, menjadi fi‘il syarat. آيَاتُنَا adalah nā’ib fā‘il, marfū‘ dengan dhammah. آيَاتُ menjadi mudhāf, sedangkan نَا menjadi mudhāf ilaih.

Jumlah تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا berada pada posisi jarr sebagai mudhāf ilaih bagi إِذَا.

Jika setelah إِذَا langsung muncul isim

Karena إِذَا syarthiyyah-zharfiyyah membutuhkan jumlah fi‘liyyah setelahnya, maka jika setelah إِذَا langsung muncul isim, isim tersebut tidak langsung dianggap mubtada’ menurut metode i‘rāb yang dipakai kitab ini. Ia dianggap sebagai fā‘il dari fi‘il yang dibuang wajib, dan fi‘il yang disebut setelah isim itu menjadi penafsir bagi fi‘il yang dibuang.

Contoh:

إِذَا السَّمَاءُ انْشَقَّتْ
“Apabila langit terbelah.”

Secara lahir, setelah إِذَا muncul isim: السَّمَاءُ. Karena إِذَا membutuhkan jumlah fi‘liyyah, maka diperkirakan ada fi‘il yang dibuang:

إِذَا انْشَقَّتِ السَّمَاءُ انْشَقَّتْ

Maka السَّمَاءُ dii‘rāb sebagai fā‘il bagi fi‘il yang dibuang, bukan mubtada’.

Contoh lain:

إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ
“Apabila matahari digulung/dilipat cahayanya.”

Karena fi‘il yang disebut setelahnya adalah كُوِّرَتْ, fi‘il majhūl, maka isim sebelumnya, yaitu الشَّمْسُ, dii‘rāb sebagai nā’ib fā‘il bagi fi‘il majhūl yang dibuang.

Taqdīrnya:

إِذَا كُوِّرَتِ الشَّمْسُ كُوِّرَتْ

Jadi الشَّمْسُ adalah nā’ib fā‘il dari fi‘il mahذūf, bukan mubtada’.

Ketiga: إِذَا keluar dari makna syarat

Ketiga, إِذَا terkadang keluar dari makna syarat. Hal ini paling sering terjadi setelah qasam/sumpah.

Dalam keadaan ini, إِذَا berkaitan dengan hāl yang dibuang dari muqsam bih, yaitu objek yang dijadikan sumpah.

Contoh:

وَالضُّحَى ۝ وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى
“Demi waktu dhuha, dan demi malam apabila telah sunyi/tenang.”

وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى ۝ وَالنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّى
“Demi malam apabila menutupi, dan demi siang apabila terang benderang.”

Pada contoh:

وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى

Huruf وَ adalah wāw qasam, huruf jar. اللَّيْلِ adalah muqsam bih, majrūr dengan wāw qasam. Jār-majrūr tersebut berkaitan dengan fi‘il sumpah yang dibuang, yaitu أُقْسِمُ.

إِذَا adalah zharaf zaman, mabnī di atas sukūn, dalam posisi nashab. Ia berkaitan dengan hāl yang dibuang dari اللَّيْلِ.

Taqdīrnya:

أُقْسِمُ بِاللَّيْلِ كَائِنًا إِذَا يَغْشَى

“Aku bersumpah demi malam dalam keadaan ia sedang menutupi.”

Jadi إِذَا di sini bukan syarat. Tidak ada makna “jika malam menutupi, maka…”. Yang ada adalah sumpah terhadap malam dalam keadaan tertentu.

  1. Penjelasan Mendalam: Hakikat Nahwu Lafaz إِذَا
  2. Mengapa satu lafaz bisa punya beberapa wajah?

Dalam nahwu Arab, satu lafaz tidak selalu punya satu fungsi tunggal. Lafaz إِذَا adalah contoh bagus bagaimana bahasa Arab membedakan fungsi berdasarkan:

  1. makna,
  2. susunan setelahnya,
  3. konteks kalimat,
  4. apakah ia membutuhkan jawab atau tidak,
  5. apakah ia menjadi huruf atau isim,
  6. apakah ia mengandung makna syarat atau hanya zharaf waktu.

Secara konseptual, إِذَا berputar di sekitar makna الزَّمَان, yaitu waktu. Akan tetapi, makna waktu itu bisa berkembang menjadi tiga:

Jenis إِذَا Makna utama Setelahnya Status nahwu
إِذَا الفجائية tiba-tiba jumlah ismiyyah huruf, tidak beramal
إِذَا الشرطية الظرفية apabila/jika pada masa mendatang jumlah fi‘liyyah isim syarat ghair jāzim, zharaf
إِذَا بعد القسم ketika/dalam keadaan jumlah fi‘liyyah zharaf, bukan syarat

Di sinilah keindahan nahwu: fungsi tidak ditentukan oleh kata secara terpisah, tetapi oleh relasi sintaksis. Dalam mantiq, kita bisa menyebutnya: makna lafaz tidak berdiri sendiri, melainkan muncul dari nisbah antara lafaz, konteks, dan struktur kalimat.

  1. إِذَا الفُجَائِيَّة: Makna Kejutan dan Perubahan Mendadak
  2. Makna dasarnya

إِذَا الفجائية memberi makna:

“tiba-tiba ternyata…”
“maka seketika…”
“tanpa diduga…”
“langsung tampak bahwa…”

Contoh:

فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَى

Secara naratif:

  1. Musa melempar tongkat.
  2. Lalu secara mengejutkan tampak realitas baru.
  3. Tongkat itu menjadi ular yang bergerak.

Di sini إِذَا tidak bermakna “apabila”. Kalau diterjemahkan “apabila ia adalah ular”, maknanya rusak. Yang benar adalah “tiba-tiba ia menjadi ular”.

  1. Mengapa setelahnya jumlah ismiyyah?

Karena إِذَا الفجائية biasanya menampilkan keadaan yang langsung tampak. Jumlah ismiyyah dalam bahasa Arab sering memberi kesan tsubūt, keadaan, stabilitas, atau tampaknya suatu realitas.

Perhatikan:

فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ

Yang ditekankan bukan proses “menjadi”-nya secara bertahap, tetapi keadaan final yang mengejutkan: “ternyata ia ular.”

Maka jumlah ismiyyah cocok sekali, karena jumlah ismiyyah menampilkan sebuah keadaan:

هِيَ حَيَّةٌ
“ia adalah ular.”

Lalu disifati:

تَسْعَى
“yang bergerak cepat.”

Jadi struktur batinnya:

objek yang tadinya tongkat → tiba-tiba tampak sebagai ular hidup yang bergerak.

  1. Mengapa dikatakan huruf tidak beramal?

Dalam i‘rāb kitab ini:

إِذَا الفجائية dianggap حرف لا عمل له.

Artinya, ia tidak memengaruhi i‘rāb kata setelahnya. Pada:

فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ

هِيَ menjadi mubtada’ bukan karena diamalkan oleh إِذَا, tetapi karena struktur jumlah ismiyyahnya sendiri.

حَيَّةٌ menjadi khabar bukan karena pengaruh إِذَا, melainkan karena ia memang khabar mubtada’.

Jadi إِذَا di sini hanya memberi makna semantik: makna kejutan.

  1. Perbandingan dengan إِذَا الشرطية

Bandingkan:

إِذَا جَاءَ زَيْدٌ أَكْرَمْتُهُ
“Apabila Zaid datang, aku memuliakannya.”

Ini syarat.

Tapi:

خَرَجْتُ فَإِذَا زَيْدٌ قَائِمٌ
“Aku keluar, tiba-tiba Zaid sedang berdiri.”

Ini bukan syarat. Tidak ada makna “jika Zaid berdiri”. Yang ada adalah kejutan persepsi.

Secara logika:

  • إِذَا الشرطية: apabila P, maka Q.
  • إِذَا الفجائية: setelah kejadian A, tiba-tiba terlihat keadaan B.
  1. إِذَا الشَّرْطِيَّة الظَّرْفِيَّة: Struktur Waktu dan Syarat
  2. Disebut zharfiyyah karena menunjukkan waktu

Pada contoh:

فَإِذَا جَاءَ أَمْرُ اللَّهِ قُضِيَ بِالْحَقِّ

إِذَا bermakna:

pada waktu datangnya keputusan Allah.

Maka ia disebut ظرف للزمان.

  1. Disebut syarthiyyah karena mengandung hubungan syarat-jawab

Strukturnya:

إِذَا جَاءَ أَمْرُ اللَّهِ
“apabila datang keputusan Allah”

ini adalah syarat.

قُضِيَ بِالْحَقِّ
“diputuskan dengan benar”

ini adalah jawab syarat.

Jadi pola logikanya:

Apabila P terjadi, maka Q terjadi.

Namun perlu hati-hati: hubungan إِذَا tidak selalu bermakna sebab-akibat filosofis. Kadang ia hanya menunjukkan keterikatan waktu. Sebab-akibat bisa dipahami dari konteks, bukan dari إِذَا semata.

  1. Disebut ghair jāzim karena tidak menjazmkan fi‘il

Bandingkan dengan إِنْ:

إِنْ تَجْتَهِدْ تَنْجَحْ
“Jika engkau bersungguh-sungguh, engkau berhasil.”

Di sini تَجْتَهِدْ dan تَنْجَحْ majzūm karena إِنْ adalah adāt syarth jāzimah.

Tetapi:

إِذَا تَجْتَهِدُ تَنْجَحُ secara asal tidak menjazmkan. Dalam praktik fasih, lebih lazim:

إِذَا اجْتَهَدْتَ نَجَحْتَ
“Apabila engkau bersungguh-sungguh, engkau berhasil.”

Fi‘il setelahnya boleh berupa mādhī secara lafaz, tetapi maknanya sering mengarah kepada masa depan.

Inilah rahasianya:

Fi‘il mādhī setelah إِذَا sering dipakai untuk sesuatu yang akan datang tetapi dianggap pasti atau kuat terjadinya.

Contoh kiamat:

إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ
“Apabila matahari digulung.”

Peristiwanya belum terjadi pada saat ayat turun, tetapi digunakan fi‘il mādhī كُوِّرَتْ untuk memberi kesan kepastian. Dalam balaghah, ini memberi efek تحقيق الوقوع, seakan-akan sesuatu yang akan datang itu sudah pasti terjadi.

  1. Mengapa Jumlah Setelah إِذَا Menjadi Mudhāf Ilaih?

Ini bagian yang sangat penting.

Kitab mengatakan:

إِذَا syarthiyyah-zharfiyyah adalah zharaf yang selalu diidhāfahkan kepada jumlah fi‘liyyah setelahnya.

Maksudnya:

إِذَا جَاءَ زَيْدٌ

Secara struktur:

  • إِذَا = zharaf/mudhāf
  • جَاءَ زَيْدٌ = jumlah fi‘liyyah/mudhāf ilaih

Karena mudhāf ilaih selalu majrūr, maka jumlah setelah إِذَا dikatakan:

فِي مَحَلِّ جَرٍّ مُضَافٌ إِلَيْهِ

Tentu jumlah tidak menerima kasrah secara lafaz. Karena itu jarr-nya adalah محلِّي, bukan lafzhī.

Contoh:

إِذَا جَاءَ أَمْرُ اللَّهِ

Jumlah جَاءَ أَمْرُ اللَّهِ berada dalam posisi jarr sebagai mudhāf ilaih.

Ini salah satu pembahasan indah dalam nahwu: bukan hanya isim mufrad yang bisa menjadi mudhāf ilaih; jumlah juga bisa menempati posisi mudhāf ilaih setelah sebagian zharaf seperti إِذَا، إِذْ، حَيْثُ، لَمَّا dalam konteks tertentu.

  1. Masalah Besar: Mengapa “السَّمَاءُ” Bukan Mubtada’?

Pada ayat:

إِذَا السَّمَاءُ انْشَقَّتْ

Secara spontan, pelajar nahwu bisa menyangka:

  • السَّمَاءُ = mubtada’
  • انْشَقَّتْ = khabar

Namun kitab ini tidak memilih i‘rāb itu. Ia mengatakan:

السَّمَاءُ adalah fā‘il bagi fi‘il mahذūf wajib.

Mengapa?

Karena menurut pendekatan ini, إِذَا الشرطية pada asalnya masuk kepada jumlah fi‘liyyah, bukan jumlah ismiyyah. Maka jika setelah إِذَا muncul isim, harus diperkirakan ada fi‘il yang dibuang.

Strukturnya bukan:

إِذَا + مبتدأ + خبر

Tetapi:

إِذَا + فعل محذوف + فاعل + فعل مفسر

Pada:

إِذَا السَّمَاءُ انْشَقَّتْ

Taqdīrnya:

إِذَا انْشَقَّتِ السَّمَاءُ انْشَقَّتْ

Maka:

  • fi‘il mahذūf: انْشَقَّتْ
  • fā‘ilnya: السَّمَاءُ
  • fi‘il yang tampak: انْشَقَّتْ
  • fungsinya: menafsirkan fi‘il yang dibuang

Ini mirip pola yang dikenal dalam nahwu sebagai adanya عامل محذوف يفسره المذكور, yakni ada ‘āmil tersembunyi yang dijelaskan oleh kata kerja yang datang setelahnya.

Perbedaan dengan “إِذَا الفجائية”

Bandingkan:

فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ

Di sini هِيَ memang mubtada’. Mengapa? Karena إِذَا di sini فجائية, dan setelahnya memang lazim jumlah ismiyyah.

Tetapi:

إِذَا السَّمَاءُ انْشَقَّتْ

Di sini إِذَا syarthiyyah, maka struktur yang dikehendaki adalah jumlah fi‘liyyah.

Jadi kuncinya bukan sekadar “setelah إِذَا ada isim”, tetapi jenis إِذَا-nya apa.

  1. Mengapa “الشَّمْسُ” Menjadi Nā’ib Fā‘il?

Pada:

إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ

Fi‘il yang menafsirkan adalah:

كُوِّرَتْ

Ini fi‘il mādhī majhūl/pasif. Jika fi‘ilnya pasif, maka kata yang menjadi pelaku sintaksis bukan fā‘il, tetapi نائب فاعل.

Taqdīrnya:

إِذَا كُوِّرَتِ الشَّمْسُ كُوِّرَتْ

Maka الشَّمْسُ adalah nā’ib fā‘il dari fi‘il mahذūf كُوِّرَتْ.

Ini kaidahnya:

Fi‘il penafsir Isim setelah إِذَا menjadi
Fi‘il ma‘lūm/lazim fā‘il
Fi‘il majhūl nā’ib fā‘il

Contoh:

إِذَا السَّمَاءُ انْشَقَّتْ
Fi‘ilnya ma‘lūm/lāzim → السَّمَاءُ fā‘il.

إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ
Fi‘ilnya majhūl → الشَّمْسُ nā’ib fā‘il.

  1. إِذَا Setelah Qasam: Bukan Syarat, Tapi Hāl

Pada ayat:

وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى

Jangan diterjemahkan:

“Demi malam jika ia menutupi, maka…”

Bukan begitu.

Yang benar:

“Demi malam ketika ia menutupi.”

Di sini إِذَا tidak membutuhkan jawab syarat. Ia bukan operator syarat, melainkan zharaf yang membatasi keadaan muqsam bih.

Taqdīrnya:

أُقْسِمُ بِاللَّيْلِ كَائِنًا إِذَا يَغْشَى

“Aku bersumpah demi malam dalam keadaan ia menutupi.”

Mengapa disebut berkaitan dengan hāl mahذūf?

Karena sumpahnya bukan hanya kepada “malam” secara mutlak, tetapi kepada malam dalam keadaan tertentu:

  • malam ketika menutupi,
  • malam ketika sunyi,
  • siang ketika terang,
  • bulan ketika mengikuti matahari.

Maka إِذَا يَغْشَى menjelaskan keadaan اللَّيْلِ.

Secara makna:

اللَّيْلِ = muqsam bih
إِذَا يَغْشَى = keadaan khusus dari malam yang menjadi objek sumpah

Inilah struktur yang disebut:

مُتَعَلِّقٌ بِحَالٍ مَحْذُوفَةٍ مِنَ الْمُقْسَمِ بِهِ

  1. Faidah: “مَا” Setelah إِذَا

Dalam bait:

أُفِيدُكُمْ يَا إِخْوَتِي فَائِدَةً
فَكُلُّ مَا بَعْدَ إِذَا زَائِدَةٌ

Maksudnya: apabila ada susunan إِذَا مَا dalam pola syarthiyyah, maka مَا biasanya dianggap زائدة.

Contoh:

إِذَا مَا صَنَعْتِ الزَّادَ فَالْتَمِسِي لَهُ أَكِيلًا

“Apabila engkau telah menyiapkan bekal makanan, carilah seseorang yang ikut memakannya, sebab aku tidak akan memakannya sendirian.”

I‘rābnya:

  • إِذَا: isim syarat ghair jāzim, zharaf zaman mustaqbal, mudhāf.
  • مَا: zā’idah, tidak memiliki kedudukan i‘rāb.
  • صَنَعْتِ: fi‘il dan fā‘il, menjadi fi‘il syarat.
  • الزَّادَ: maf‘ūl bih.
  • jumlah صَنَعْتِ الزَّادَ: mudhāf ilaih bagi إِذَا.
  • فَالْتَمِسِي: jawab syarat, didahului fā’ karena jawabnya berupa kalimat thalabiyyah/perintah.

Catatan penting: zā’idah di sini bukan berarti “tidak berguna sama sekali”. Dalam nahwu, زائد sering berarti tidak memiliki fungsi i‘rāb inti, tetapi bisa memiliki fungsi balaghī, seperti penguatan, irama, atau penekanan.

  1. Penyelesaian Latihan I‘rāb

Karena teks latihan tidak memperlihatkan garis bawahnya, aku i‘rābkan fokus utama pada semua bentuk إِذَا dan struktur penting setelahnya.

  1. وَإِذَا مَسَّ النَّاسَ ضُرٌّ…

وَإِذَا مَسَّ النَّاسَ ضُرٌّ دَعَوْا رَبَّهُمْ…

  • الواو: sesuai konteks sebelumnya.
  • إِذَا: اسم شرط غير جازم، ظرف لما يستقبل من الزمان، مبني على السكون في محل نصب، وهو مضاف.
  • مَسَّ: فعل ماضٍ مبني على الفتح، وهو فعل الشرط.
  • النَّاسَ: مفعول به منصوب.
  • ضُرٌّ: فاعل مرفوع.
  • Jumlah مَسَّ النَّاسَ ضُرٌّ: في محل جر مضاف إليه.
  • دَعَوْا: فعل ماضٍ، والواو فاعل، والجملة جواب الشرط.

Makna:

“Apabila manusia disentuh oleh bahaya, mereka berdoa kepada Tuhan mereka.”

  1. ثُمَّ إِذَا أَذَاقَهُمْ مِنْهُ رَحْمَةً، إِذَا فَرِيقٌ مِنْهُمْ…

Di sini ada dua إِذَا:

إِذَا pertama

ثُمَّ إِذَا أَذَاقَهُمْ مِنْهُ رَحْمَةً

  • إِذَا: شرطية ظرفية غير جازمة.
  • أَذَاقَ: فعل ماضٍ، فعل الشرط، والفاعل ضمير مستتر تقديره هو.
  • هُمْ: ضمير متصل في محل نصب مفعول به أول.
  • رَحْمَةً: مفعول به ثانٍ.
  • مِنْهُ: جار ومجرور متعلق بالفعل atau berkaitan dengan makna pemberian rahmat itu.
  • Jumlah أَذَاقَهُمْ مِنْهُ رَحْمَةً: في محل جر مضاف إليه.

إِذَا kedua

إِذَا فَرِيقٌ مِنْهُمْ بِرَبِّهِمْ يُشْرِكُونَ

Ini إِذَا فجائية.

  • إِذَا: حرف مفاجأة لا محل له من الإعراب.
  • فَرِيقٌ: مبتدأ مرفوع.
  • مِنْهُمْ: جار ومجرور صفة لـفَرِيقٌ.
  • بِرَبِّهِمْ: جار ومجرور متعلق بـيُشْرِكُونَ.
  • يُشْرِكُونَ: فعل مضارع مرفوع، والواو فاعل.
  • Jumlah يُشْرِكُونَ: في محل رفع خبر المبتدأ فَرِيقٌ.

Makna:

“Kemudian apabila Dia membuat mereka merasakan rahmat dari-Nya, tiba-tiba sebagian dari mereka mempersekutukan Tuhan mereka.”

Di sini indah sekali: إِذَا pertama menunjukkan pola syarat: ketika diberi rahmat. إِذَا kedua menunjukkan kejutan moral: tiba-tiba sebagian mereka syirik. Secara psikologis, ayat ini menggambarkan manusia yang saat susah kembali kepada Allah, tetapi saat lega tiba-tiba lupa dan menyimpang.

  1. فَإِذَا أَصَابَ بِهِ مَنْ يَشَاءُ… إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ

إِذَا pertama

فَإِذَا أَصَابَ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ

  • الفاء: حسب ما قبلها.
  • إِذَا: ظرفية شرطية غير جازمة.
  • أَصَابَ: فعل ماضٍ، فعل الشرط.
  • فاعله ضمير مستتر تقديره: هو.
  • بِهِ: جار ومجرور.
  • مَنْ: اسم موصول مبني في محل نصب مفعول به.
  • يَشَاءُ: فعل مضارع، والفاعل ضمير مستتر، والجملة صلة الموصول.
  • مِنْ عِبَادِهِ: جار ومجرور، dapat dipahami sebagai بيان atau حال.

إِذَا kedua

إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ

  • إِذَا: فجائية، حرف لا محل له.
  • هُمْ: ضمير منفصل في محل رفع مبتدأ.
  • يَسْتَبْشِرُونَ: فعل مضارع مرفوع، والواو فاعل.
  • Jumlah fi‘liyyah يَسْتَبْشِرُونَ: في محل رفع خبر.

Makna:

“Maka apabila Dia menimpakan hujan itu kepada siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya, tiba-tiba mereka bergembira.”

  1. وَإِذَا النُّجُومُ انْكَدَرَتْ
  • الواو: عاطفة atau استئنافية sesuai rangkaian ayat.
  • إِذَا: اسم شرط غير جازم، ظرف لما يستقبل من الزمان، مضاف.
  • النُّجُومُ: فاعل لفعل محذوف وجوبًا يفسره المذكور.
  • Taqdīr: إِذَا انْكَدَرَتِ النُّجُومُ انْكَدَرَتْ.
  • Jumlah dari fi‘il mahذūf dan fā‘ilnya: في محل جر مضاف إليه.
  • انْكَدَرَتْ: فعل ماضٍ، والفاعل ضمير مستتر يعود على النجوم، وهو مفسر للفعل المحذوف.

Makna:

“Apabila bintang-bintang berjatuhan/padam cahayanya.”

  1. وَإِذَا الْجِبَالُ سُيِّرَتْ
  • إِذَا: شرطية ظرفية غير جازمة.
  • الْجِبَالُ: نائب فاعل لفعل محذوف وجوبًا.
  • Taqdīr: إِذَا سُيِّرَتِ الْجِبَالُ سُيِّرَتْ.
  • Karena سُيِّرَتْ pasif, maka الْجِبَالُ menjadi nā’ib fā‘il.
  • سُيِّرَتْ: فعل ماضٍ مبني للمجهول، مفسر للفعل المحذوف.

Makna:

“Apabila gunung-gunung digerakkan/dijalankan.”

  1. وَإِذَا الْعِشَارُ عُطِّلَتْ
  • إِذَا: شرطية ظرفية غير جازمة.
  • الْعِشَارُ: نائب فاعل لفعل محذوف وجوبًا.
  • Taqdīr: إِذَا عُطِّلَتِ الْعِشَارُ عُطِّلَتْ.
  • عُطِّلَتْ: فعل ماضٍ مبني للمجهول.

Makna:

“Apabila unta-unta bunting yang sangat berharga ditinggalkan.”

Secara balaghah, ini menggambarkan dahsyatnya kiamat: sesuatu yang biasanya sangat dijaga manusia pun ditinggalkan.

  1. وَإِذَا الْوُحُوشُ حُشِرَتْ
  • إِذَا: شرطية ظرفية غير جازمة.
  • الْوُحُوشُ: نائب فاعل لفعل محذوف وجوبًا.
  • Taqdīr: إِذَا حُشِرَتِ الْوُحُوشُ حُشِرَتْ.
  • حُشِرَتْ: فعل ماضٍ مبني للمجهول.

Makna:

“Apabila binatang-binatang liar dikumpulkan.”

  1. وَإِذَا الْبِحَارُ سُجِّرَتْ
  • إِذَا: شرطية ظرفية غير جازمة.
  • الْبِحَارُ: نائب فاعل لفعل محذوف وجوبًا.
  • Taqdīr: إِذَا سُجِّرَتِ الْبِحَارُ سُجِّرَتْ.
  • سُجِّرَتْ: فعل ماضٍ مبني للمجهول.

Makna:

“Apabila lautan dinyalakan/diluapkan/dipenuhi panas.”

  1. وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا
  • إِذَا: شرطية ظرفية غير جازمة.
  • خَاطَبَ: فعل ماضٍ، فعل الشرط.
  • هُمُ: ضمير متصل في محل نصب مفعول به.
  • الْجَاهِلُونَ: فاعل مرفوع بالواو لأنه جمع مذكر سالم.
  • Jumlah خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ: في محل جر مضاف إليه.
  • قَالُوا: فعل ماضٍ، والواو فاعل، والجملة جواب الشرط.
  • سَلَامًا: مفعول به atau مصدر نائب عن فعل محذوف، أي: قالوا قولًا سالمًا / سلموا سلامًا.

Makna:

“Apabila orang-orang bodoh menyapa mereka, mereka berkata dengan perkataan yang selamat/damai.”

Secara adab, ayat ini mengajarkan respons matang: tidak setiap provokasi harus dibalas dengan emosi. Dalam psikologi modern, ini dekat dengan emotional regulation dan response inhibition: kemampuan menahan reaksi impulsif.

  1. وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ
  • إِذَا: شرطية ظرفية غير جازمة.
  • كَالُوا: فعل ماضٍ، والواو فاعل.
  • هُمْ: ضمير متصل. Dalam analisis makna, dapat dipahami sebagai objek transaksi; sebagian i‘rāb memahaminya dengan makna كَالُوا لَهُمْ, yaitu “menakar untuk mereka”.
  • أَوْ: حرف عطف.
  • وَزَنُوا: فعل ماضٍ، والواو فاعل.
  • هُمْ: ضمير متصل.
  • Jumlah كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ: في محل جر مضاف إليه.
  • يُخْسِرُونَ: فعل مضارع مرفوع، والواو فاعل، والجملة جواب الشرط.

Makna:

“Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka menguranginya.”

Secara moral, struktur إِذَا di sini memberi pola kebiasaan: setiap kali mereka berada dalam posisi memberi hak orang lain, mereka mengurangi. Ini bukan satu kesalahan spontan, tetapi pola karakter sosial yang rusak.

  1. وَالْقَمَرِ إِذَا تَلَاهَا
  • الواو: واو القسم.
  • الْقَمَرِ: مقسم به مجرور بواو القسم.
  • إِذَا: ظرف زمان، bukan syarthiyyah.
  • تَلَاهَا: فعل ماضٍ، والفاعل ضمير مستتر يعود على القمر، والهاء مفعول به يعود على الشمس.
  • Jumlah تَلَاهَا: مضاف إليه dari sisi zharaf, atau menjadi penjelas keadaan waktu.
  • إِذَا تَلَاهَا متعلق بحال محذوفة من القمر.

Taqdīr:

أُقْسِمُ بِالْقَمَرِ كَائِنًا إِذَا تَلَاهَا

Makna:

“Demi bulan ketika ia mengiringi matahari.”

  1. وَالنَّهَارِ إِذَا جَلَّاهَا
  • الواو: واو القسم.
  • النَّهَارِ: مقسم به مجرور.
  • إِذَا: ظرف زمان غير شرطية.
  • جَلَّاهَا: فعل ماضٍ، والفاعل ضمير مستتر يعود على النهار، والهاء مفعول به يعود على الشمس atau alam yang diterangi.
  • إِذَا جَلَّاهَا متعلق بحال محذوفة من النهار.

Makna:

“Demi siang ketika ia menampakkannya/menjadikannya terang.”

  1. إِذَا مَا الْمَلِكُ سَامَ النَّاسَ خَسْفًا…

إِذَا مَا الْمَلِكُ سَامَ النَّاسَ خَسْفًا
أَبَيْنَا أَنْ نُقِرَّ الذُّلَّ فِينَا

Terjemah:

“Apabila raja memaksa manusia kepada kehinaan, kami menolak untuk mengakui kehinaan itu ada pada diri kami.”

I‘rāb:

  • إِذَا: اسم شرط غير جازم، ظرف لما يستقبل من الزمان، مضاف.
  • مَا: زائدة لا محل لها.
  • الْمَلِكُ: فاعل لفعل محذوف وجوبًا يفسره المذكور بعده.
  • Taqdīr: إِذَا مَا سَامَ الْمَلِكُ النَّاسَ خَسْفًا…
  • سَامَ: فعل ماضٍ مفسر للفعل المحذوف.
  • فاعله ضمير مستتر يعود على الْمَلِكُ.
  • النَّاسَ: مفعول به أول.
  • خَسْفًا: مفعول به ثانٍ atau مصدر دال على نوع الفعل.
  • أَبَيْنَا: فعل ماضٍ، والنا فاعل، والجملة جواب الشرط.
  • أَنْ نُقِرَّ: مصدر مؤول في محل نصب مفعول به لـأَبَيْنَا.
  • الذُّلَّ: مفعول به لـنُقِرَّ.
  • فِينَا: جار ومجرور متعلق بـنُقِرَّ.
  1. Ringkasan Konseptual Akhir

Lafaz إِذَا dalam pembahasan ini memiliki tiga wajah besar:

  1. إِذَا الفجائية

Contoh:

فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ

Maknanya: “tiba-tiba”.

Ciri-cirinya:

  • sering didahului fā’,
  • masuk kepada jumlah ismiyyah,
  • tidak membutuhkan jawab syarat,
  • tidak beramal,
  • memberi efek kejutan/perubahan mendadak.
  1. إِذَا الشرطية الظرفية غير الجازمة

Contoh:

إِذَا جَاءَ أَمْرُ اللَّهِ قُضِيَ بِالْحَقِّ

Maknanya: “apabila”.

Ciri-cirinya:

  • isim, bukan huruf,
  • zharaf zaman mustaqbal,
  • mengandung makna syarat,
  • tidak menjazmkan fi‘il,
  • menjadi mudhāf,
  • jumlah fi‘liyyah setelahnya menjadi mudhāf ilaih,
  • membutuhkan jawab syarat.
  1. إِذَا غير الشرطية بعد القسم

Contoh:

وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى

Maknanya: “ketika/dalam keadaan”.

Ciri-cirinya:

  • sering muncul setelah qasam,
  • tidak bermakna syarat,
  • tidak membutuhkan jawab syarat,
  • berkaitan dengan hāl mahذūf dari muqsam bih,
  • menjelaskan keadaan sesuatu yang dijadikan sumpah.

Peta Logika إِذَا

Secara mantiq, bisa diringkas begini:

Bentuk Struktur logika Contoh
فجائية Setelah A, tiba-tiba tampak B ألقاها فإذا هي حية
شرطية Jika/ketika P, maka Q إذا جاء أمر الله قضي بالحق
بعد القسم Aku bersumpah demi X dalam keadaan Y والليل إذا يغشى

Jadi kekeliruan terbesar dalam memahami إِذَا adalah menyamaratakan semua إِذَا sebagai “apabila”. Padahal:

  • فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ  bukan “apabila ia ular”, tetapi “tiba-tiba ia ular”.
  • إِذَا جَاءَ أَمْرُ اللَّهِ  memang “apabila datang keputusan Allah”.
  • وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى  bukan “jika malam menutupi”, tetapi “demi malam ketika ia menutupi”.

Di sinilah nahwu bukan sekadar i‘rāb teknis, tetapi ilmu membaca relasi makna: kapan lafaz menjadi syarat, kapan menjadi kejutan, dan kapan hanya membatasi keadaan.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *